Terowongan Sasaksaat diapit oleh dua stasiun yaitu Stasiun Maswati (+ 499 m di atas permukaan laut) dan Stasiun Sasaksaat (+ 541 m dpl) serta memiliki panjang 949 m (sebuah dokumen Belanda yang saya temukan menyebutkan detailnya 949,19 m). Stasiun Maswati terletak di desa Mandalasari, Cikalong Wetan, Bandung Barat, dan berada di kompleks perkebunan teh PTPN-VIII Panglejar. Terowongan Sasaksaat berada di sebelah tenggara stasiun Maswati dan hanya berjarak kurang lebih 1 km di ke sebelah barat daya dari stasiun Sasaksaat.
 |
| Perbukitan Cidepong, garis kuning adalah jalur kereta api |
Terowongan yang membelah perbukitan Cidepong ini adalah terowongan terpanjang kedua di Indonesia setelah terowongan Wilhelmina (panjang 1208 m) di Cijulang, Banjar. Terowongan Sasaksaat berada di jalur
kereta api yang dibangun oleh SS (
Staatsspoorwagen) antara tahun 1902-1903. Terowongan ini berada di jalur antara
Purwakarta dan
Padalarang di Km 143 + 144 antara
Stasiun Maswati (+ 499 m di atas permukaan laut) dan
Stasiun Sasaksaat (+ 541 m dpl), membelah perbukitan Cidepong di Kampung Sasaksaat, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Didalam
terowongan sepanjang 949 m ini terdapat 35
sleko (semacam shelter) terdiri dari 17 kiri dan 18 kanan dari arah
Stasiun Sasaksaat. Terowongan yang terletak di Daerah Operasi II
Bandung merupakan terowongan
kereta api yang padat lalu lintas, setiap harinya ada 44
Kereta api yang melintas secara reguler. Jalur yang lengkung ketika akan memasuki
terowongan baik dari arah
Stasiun Sasaksaat dan
stasiun Maswati maka jalan relnya diberi
rel paksa (gongsol). Banyaknya
kereta api yang melintas memerlukan penjagaan khusus di
terowongan sehingga di kedua ujung
terowongan terdapat gardu jaga untuk JPTw (Juru Periksa Terowongan).
Di luar mitos seputar terowongan tersebut, ada satu hal yang sangat disayangkan yaitu masih belum sadarnya warga dalam menjaga heritage peninggalan masa penjajahan Belanda tersebut. Hampir setiap hari ditemukan sampah yang dibuang oleh penumpang saat melintas di dalam terowongan dan di sepanjang terowongan setinggi 4, 30 meter dan lebar 4,38 meter ini pada sisi-sisi temboknya banyak sekali coretan berisi kata-kata nakal. 
Terowongan ini tetap merupakan bagian sejarah yang wajib dipelihara karena terowongan ini dibangun dengan ketelitian yang tinggi, mengingat tingkat kesulitan tanah perbukitan di daerah tersebut. Paling tidak ada hitungan kemiringan dan kelokan 16-25 derajat, dan juga sedikit menanjak (Maswati +499 m dpl – Sasaksaat +541 m dpl), sehingga terowongan beton ini bisa dibangun sesuai bentuk bukit-bukit di daerah itu. Jadi, perlu diperhatikan bahwa lebih dari 100 tahun lalu Belanda sudah membangun dengan cara dan perhitungan yang canggih.
Referensi: http://id.wikipedia.org, http://jabar.tribunnews.com