Friday, July 19, 2013

Girimis



Girimis…
Meuntaskeun béntang, peuting neundeun panineungan
Bulan…
Nurut katangtuan, balébat nganteurkeun caang
Neang wanci pangharepan
Moal peunggas ku lamunan

Simpé
Tarajéna haté, langit neuteup ngadeukeutan
Srangéngé
Mendakan poé, beurang muruh leumbur peuting
Leumah mapay rasa héman
Sagara ilang kamelang

Lembur lengkob pamatuhan
Séah dangding meuntas langit
Ngampar jajar kahuripan
Cai nyurupkeun kaasih
Sagara paheut ka leumah
Sumujud pangeusi nagri

Taun cundukeun ka waktu marahbay pageusi nagri
Durugdug munding malati ku kawelas matri asih
Talaga nyurup ka walungan, bagéa dulur baraya

Bumi…
Manjing ka langitan, séah hujan kabagjaan
Adeg…
Gunung satangtungan, susukan panjang harepan
Melak tangkal ajeg leumah
Tungtung waktu teu tinemu


by: Emka-9

Friday, April 5, 2013

Sukiyaki, dimana kau berada...

Suatu sore di sebuah mall di kota Doha, seketika saya terjebak dalam kerinduan akan sebuah restoran Jepang cepat saji di Indonesia. Kangen rasanya menyantap aneka sajian khas negeri Sakura itu dengan harga yang relatif bersahabat dan rasa yang telah disesuaikan dengan lidah orang indonesia. Langsung tersaji dalam bayanganku udang tempura, chicken katsu dan beef teriyaki yang menggoda di atas piring berbentuk kotak, dan sebuah pan panas berisi Sukiyaki yang membuat liurku menjadi encer. Tapi di jazirah ini, dimana bisa menemukan restoran Jepang dengan harga bersahabat seperti di Indonesia. Di sini, hidangan dari timur jauh biasanya berada di restoran middle-up atau hotel berbintang dengan harga yang cukup premium, tidak pas di kantong saya.

Sukiyaki, ya, nama itu terpampang di sebuah gerai di food-court mall itu, dan tanpa berfikir lagi langsung saja saya sambangi. Tetapi setelah didekati saya agak terheran dengan tampilan gambar yang mendisplaykan masakan sukiyaki itu, agak asing dengan sukiyaki yang biasa saya temui di Indonesia. Karena penasaran, saya pun memberanikan diri bertanya pada "mas-mas" yang sedang beratraksi di meja stainless yang sekaligus sebagai tempat memasak itu, "paré (sapaan khas untuk orang Filipina), is this the real Sukiyaki?" tanyaku, "of course, choose what you want, beef, chicken, shrimp or veggies" jawabnya sambil asik memainkan dua buah scrapper di tangan kanan dan kirinya. Melihat cara masaknya yang lebih mirip gaya masak teppanyaki ketimbang suki membuat saya semakin "penasaran". Well, nggak ada salahnya mencoba, pikirku, sebagai percobaan akhirnya saya pilih menu veggies alias sayuran karena harganya pun paling murah ketimbang yang lain.

Hop... hop... kedua scrapper sang koki pun beraksi di atas plat besi itu, dan tak sampai lima menit masakan pun jadi. Tersajilah sebuah hidangan dalam kotak aluminum foil khas penyajian a-la negeri Qatar berisi nasi dan oseng-oseng sayuran di atasnya. Walhasil, ekspektasi pun jatuh seketika. Sukiyaki sayuran dengan kuah berwarna cokelat sedikit berbuih yang masih mendidih dalam wajan panas ditemani semangkuk nasi Jepang hangat sirna seketika dari pikiranku.

Entah siapa yang salah interpretasi, yang jelas restoran cepat saji ini mungkin lebih tepat disebut teppanyaki karena cara masaknya yang di atas plat besi (teppan = plat besi dan yaki = masak) bukan sukiyaki. Sedangkan salah satu hidangan dari timur jauh yang sangat populer karena pernah dijadikan judul lagu ini adalah masakan berkuah alias soupy berisi sayuran dan irisan daging sapi tipis dengan rasa agak manis dan biasanya dihidangkan di atas wajan (pan) tempat memasaknya.

Bahan pembuat sukiyaki adalah daging sapi has dalam yang diiris sangat tipis hingga membentuk lembaran-lembaran, tahu putih yang biasanya di-grill dahulu sebentar semua sisinya, berbagai sayuran seperti sawi putih, bawang bombay (onion), bawang daun, seledri, beberapa jenis jamur, serta mie kenyal yang terbuat dari ubi konnyaku. Kuah atau soup-nya terbuat dari mirin, kecap manis, gula pasir dan di negara aslinya biasanya ditambahkan saké (arak Jepang). Semua bahan dimasak dalam sebuah pan besi diawali dari daging hingga sayuran lalu tambahkan berbagai bahan kuah, biasanya tampilan hidangan dipercantik dengan tertatanya bahan-bahan yang dimasak dalam pan tadi.

Dimanakah kiranya bisa menemukan sukiyaki di jazirah Arabia dengan harga yang bersahabat...?
(WL) 

Friday, March 29, 2013

Korannya, koran...

Pagi menjelang siang di jalan Ar-Rayyan, dekat Sports-roundabout waktu saya bergegas kembali ke mobil yang diparkir di seberang Hamad Hospital, tepat di median jalan di bawah pohon-pohon kurma yang berjejer kulihat seorang membawa setumpuk koran. Wajahnya lusuh dan matanya tajam menyorot ke segala arah seperti mengkhawatirkan sesuatu. Seketika saya berfikir mungkin dia adalah seorang penjual koran yang "kesiangan", dan pemandangan langka di negeri ini baiknya tidak saya lewatkan untuk diabadikan.

Terpotret sudah di kepalaku seseorang yang tengah mengangkat koran dagangannya dengan background tugu Sports-roundabout. Kubidik dan kukunci dia, sedetik, dua detik, sampai sepuluh menit saya tunggu, tapi dia tak juga menjajakan satu eksemplarpun korannya seperti yang biasa kulihat setiap pagi di jalan-jalan lateral seperti di seputaran Markhiyya atau Duheil. Sampai akhirnya sebuah mobil polisi kriminal melintas dan terjebak di tengah "kemacetan" menjelang lampu merah itu. Seorang polisi menurunkan kaca jendela dan memanggil si penjual koran kemudian berbincang sejenak. Saya yang berdiri agak jauh tak mendengar jelas percakapan antara si polisi dan penjual koran. Mobil-mobil merayap perlahan, saya melambaikan tangan pada polisi itu, dia pun membalasnya. Lampu kembali hijau, mobil polisi berlalu, sang penjual koran pun bergegas menyeberang jalan menuju parkiran Hamad Hospital.

Tinggallah saya sendirian di tengah median jalan dan kehilangan momen yang ditunggu. Rasa penasaran itu rupanya tak bisa kubendung, lalu saya coba hampiri dia untuk membujuknya mengangkat koran barang sedetik dengan iming-iming sedikit imbalan. Rupanya sang Nepali penjaja koran itu ketakutan karena baru saja ditegur oleh polisi yang melintas tadi. Diapun mengira saya seorang jurnalis walaupun telah berulangkali dijelaskan bahwa saya bukan jurnalis. Saya sekedar mengabadikan momen untuk kenang-kenangan sebagai teman cerita pada handai taulan saat pulang kampung nanti. "Please, one second only" bujukku padanya. "problem sir...! problem sir...!" katanya sambil mengembalikan sedikit uang yang saya masukkan ke sakunya.

Yah sudahlah, apa mau dikata, belum rezekiku hari ini untuk dapat momen yang diinginkan. "OK bhai, musykil nahi-hai" kataku sambil mengembalikan uang itu ke sakunya, lalu dia memberikan satu eksemplar koran sebagai kompensasi, "that's Arabic, how can I read it" kataku, senyumnya menjawab semuanya. Kami pun berlalu berlawanan arah. Selalu ada sisi lain yang kontras dari kehidupan ini, tak terkecuali di negeri yang sedang tumbuh secara instan ini. (WL)

Sunday, September 16, 2012

Desert Diary

It's all about... the story of our journey in a tiny little country at the eastern part of Arabian peninsula that they called the heart of the Arabian gulf. This is the story of our little band of brothers, and this is our Desert Diary...


Thursday, May 31, 2012

Gambar Di Pasir

Waktu itu, angin masih berhembus dari barat, matahari duduk di selatan. Batang-batang jagung merunduk mengejarnya. Kicau burung tak terdengar, mereka bermigrasi ke tempat yang lebih hangat. Pelepah-pelepah kurma menari disapa angin. Butir-butir pasir berdesis di udara menghalangi sinar matahari. Waktu pagi masih begitu dingin aku terbangun sendiri, kau telah pergi.

Aku yang setengah tak percaya berlari keluar mencarimu sampai tiba-tiba badai pasir menampar wajahku, aku jatuh tersungkur. Samar-samar kulihat bayangan berjalan pergi diantara debu-debu yang beterbangan, pelan- pelan semakin jauh. Aku berteriak semampuku memanggil bayangan itu tapi dia tak mendengar, mungkin angin berhembus terlalu kencang. Sampai pelan-pelan dia hilang di tengah badai.


Kini, angin berhembus dari timur, matahari berdiri di utara. Batang-batang jagung yang telah lama mengering berserakan di ladang. Butiran pasir bertapa, matahari sombong menantang. Burung-burung sudah kembali, kicaunya hangatkan pagi. Pohon-pohon kurma ranum berbuah, tandannya merunduk disesaki butiran-butiran berwarna hijau. Pada pasir yang diam, pada mentari yang angkuh, pada burung yang gembira aku bertanya dimana dirimu kini, mereka Cuma tertawa.

Waktu pagi mulai gerah, ku lukis wajahmu di pasir. Angin datang menghampiriku lalu tersenyum padaku, pelan-pelan sebelah tangannya merangkul pundakku, tangan lainnya lembut menyeka gambarmu hingga menjadi gumpalan debu. Duhai kau yang pergi, kaulah hujan di padang pasir, singgah sejenak menyejukkan hati lalu pergi entah kapan kembali. Wahai air, datanglah sekali lagi sekedar untuk mendinginkan tanah agar tak terlalu panas saat dipijak. Wahai hujan, singgahlah sekali lagi sekedar untuk basahi lidah seorang musafir yang berteduh di bawah pohon akasia yang hampir kering di tepi gurun.


(WL) DOH-Qa, Summer 2012



ilustrasi: sophie jacobson